Prestasi Jokowi Saat Menjadi Presiden

Mari kita lihat lebih detail soal infrastruktur. Selama 2014-2018 pemerintahan Presiden Jokowi sudah membangun sekitar 3400 km jalan biasa, ditambah 443 km jalan tol. Dalam hal ini kita tidak bisa mengatakan prestasi ini main-main. Tapi, itu pun bukan tanpa catatan. Jalan tol ruas Brebes-Kendal yang sudah 2 kali difungsikan untuk mudik Lebaran, hingga saat ini belum selesai dibangun. Demikian pula tol Becakayu. Artinya, masih ada saja pekerjaan yang belum dituntaskan. Ada 65 bendungan yang dicanangkan untuk dibangun, tapi baru 29 yang akan selesai 2019. Semoga saja tidak ada gangguan yang membuatnya mangkrak, misalnya karena tersandung soal pendanaan. Belakangan ini, karena melemahnya nilai tukar rupiah, pemerintah terpaksa menunda sejumlah proyek kelistrikan, bagian dari proyek listrik 35.000 megawatt yang ambisius itu. Apa prestasi Jokowi selama 4 tahun memerintah? Jawaban yang segera keluar adalah infrastruktur. Lalu, apa lagi? Ya, infrastruktur. Itu ditambah dengan prestasi Menteri Susi Pudjiastuti dalam hal kelautan. Yang lain? Ya, infrastruktur.

Banyak hal dibuat Jokowi dalam soal infrastruktur. Tapi, kita catat saja itu sebagai prestasi Jokowi. Apa lagi? Bagaimana dengan pembangunan ekonomi? Pertumbuhan yang ditargetkan sebesar 7% sudah tercapai. Angka pertumbuhan berkisar di 7%. Inflasi cukup terkendali, cadangan devisa cukup bagus. Tidak terlalu buruk. Secara umum fondasi ekonomi masih bagus. Tapi, bisa dicatat sebagai prestasi menonjol pemerintahan Jokowi. Soal ketenagakerjaan, ada sedikit penurunan angka pengangguran terbuka. Titik terendah di periode pemerintahan sebelumnya adalah 5,7%, dengan variasi naik turun di beberapa tahun, saat ini angkanya adalah 5,13%, turun 0,57%. Kalau nilai perubahan angka yang dijadikan acuan, Jokowi membuat perubahan lebih drastis, menurunkan angka pengangguran dari 7,8% pada 2009 menjadi 5,7% tadi. Soal tenaga kerja, ada catatan penting, yaitu tenaga kerja asing.

Selanjutnya untuk prestasi Jokowi adalah angka kemiskinan kian turun sampai 9,8%, dengan kontroversi standar kemiskinan. Terlepas dari soal itu, ada hal yang mungkin agak luput dari perhatian khalayak, yaitu hunger index atau indeks kelaparan. Angka untuk indeks ini ialah 22, jalan di tempat selama pemerintahan Jokowi, semoga saja untuk hal ini segera dapat penanganan khusu dari pemerintahan jokowi. Angka ini masuk kategori “serious”, akan tetapi saat ini sudah mulai ditangani serius untuk maslah ini. Di masa lalu angka ini pernah lebih tinggi, tapi juga pernah lebih rendah. Sebagai tambahan, angka ini termasuk buruk di Asia Tenggara. Kita hanya lebih baik dari Laos dan Myanmar, masih tertinggal dibanding Filipina dan Kamboja, dan jauh di belakang Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

Sedangkan untuk soal kesehatan, justru belakangan ini muncul wabah campak dan rubela. Kasus campak mengalamai kenaikan 2 kali lipat selama 2 tahun, dari 2015 ke 2017. Penderita rubela meningkat 3 kali lipat selama periode yang sama. Padahal kasusnya sudah menurun pada 2013. Pemerintah sedang kesulitan memadamkan perlawanan kelompok antivaksin yang berbasis agama. Akibatnya, tingkat pelaksanaan vaksinasi di berbagai provinsi hanya berkisar 20%. Di provinsi tertentu bahkan ada yang hanya 4%. Sementara itu defisit dana BPJS juga makin membaik, sehingga pemerintah harus terus mempertahankan hal ini karena memang untuk kesehatan masyarakat kita juga sangat penting, tentunya prestasi Jokowi disamping insfrastruktur tentu harus kita apresiasi seperti prestasi dalam bidang kesehatan, menciptakan lapangan pekerjaan dan masih banyak sekali prestasi Jokowi yang mungkin belum bisa dituangkan dalam artikel singkat ini tentu saja masih banyak yang belum bisa ditulus oleh admin, karena memang keterbatasan kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *